Rudy Hartadi Webs beta » Beranda » Blog » Earth Hour, Ngaruh Gak Sih?

Download

Visitor Tracker

Total Hits: 280500
Online: 9
Today: 84
Month: 1250
Unique: 72199

Jaldis Shop

Jaldis Shop

Rakha Styleshop

Rakha Styleshop - Toko Online Kecantikan Wanita

WhizKids

Fornext Technology

Fornext Technology - 	
Lembaga Pendidikan Teknologi & Pengembangan Diri untuk anak-anak (SD, SMP, SMA).

Kos Semarang

Kosemarang.com - Info Kost, Kontrakan, dan Homestay untuk wilayah Semarang.

Aeohost

Melekweb Institute - Panduan, Tips dan Review, yang Membuat Anda Sukses Bisnis Online.
 

Earth Hour, Ngaruh Gak Sih?

Ditulis pada Minggu, 29 Maret 2009 00:14:26 | Dibaca sebanyak : 595 kali

Hari Sabtu, 28 Maret 2009, sebagian besar umat manusia sedunia yang masih peduli akan kelangsungsan bumi tempat kita hidup ini, telah sepakat untuk bersama-sama memadamkan lampu selama 60 menit, yang dikenal dengan Earth Hour. Program ini dilaksanakan mulai pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. Apakah kamu telah ikut menyukseskan program ini?

Apa sih Earth Hour itu?

Hm, sebetulnya aku juga kurang paham sih, soal program ini. Tapi yang pasti, program ini ada untuk mencegah global warming dan tentu saja untuk melestarikan bumi ini. Program ini merupakan program internasional, dan tidak terpengaruh dengan siapa kamu?, dari mana asalmu?, dari suku apa?, orang kaya?, atau miskin?, semua boleh melaksanakan Earth Hour. Karena fokus atau tujuan program ini adalah bumi yang kita diami ini. Bila kita masih ingin tinggal di bumi ini, mengapa kita tidak menjaganya? Salah satunya lewat program Earth Hour ini. Semua umat manusia berhak melakukannya.

Apa hubungan antara Earth Hour dengan global warming?

Mungkin pertanyaan ini juga mampir ke benak kamu. Kok global warming dicegah dengan hanya mematikan lampu? Terus, kenapa hanya satu jam dalam setahun? Emang berefek ya? Itu beberapa pertanyaan yang mampir ke benakku. Jawabannya datang begitu saja saat facebook-an, dan ada temenku, Habibi, yang mengomentari statusku tentang Earth Hour ini.

Iseng-iseng, aku tulis status di facebook-ku, "Apakah kalian sudah ikut me-sukseskan Earth Hour?", yang tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa banyak temanku yang telah melakukannya. Karena di kampungku, kayaknya belum ada yang melakukannya. Rumahku aja cuman sempet mematikan 3 buah lampu, tapi sayangnya televisi masih menyala, karena pengen nonton Cinta Fitri Season 3, hehe.

Emang ngaruh gak sih, Earth Hour ama global warming? Itu inti pertanyaan Habibi dan diri aku sendiri tentunya. Membaca komen Habibi, aku jadi teringat sebuah artikel dari majalah Ar-Risalah, dan yang sudah kuketik ulang, trus kuposting dengan judul yang sama dengan judul artikel di majalah tersebut, yaitu: "Kode Cahaya Si Kunang-Kunang".

Jadi teringat dengan pelajaran IPA, khususnya mata pelajaran Fisika tentang kekekalan energi, kalau gak salah sih, hehe. Hukum kekekalan energi adalah energi tidak akan musnah, namun hanya berubah wujud. Waduh, betul gak ya?

Tak bisa dielakkan, lampu adalah salah satu sumber cahaya yang kita gunakan di malam hari. Di rumahku aja, kurang lebih ada 8 lampu yang digunakan untuk menerangi seisi rumah. Alhamdulillah sudah tidak menggunakan bohlam, sudah tergantikan dengan lampu TL/neon. Kalau kamu masih menggunakan bohlam, buruan ganti deh dengan lampu hemat energi. Mengapa? Karena tingkat efisiensi lampu TL lebih besar daripada bohlam.

Setiap lampu menghasilkan cahayanya dengan cara mengubah energi listrik menjadi energi cahaya. Namun, jumlah energi listrik yang diubah menjadi energi cahaya tidak sampai 100%. Bahkan, pada bohlam, efisiensinya cuman sampai 10% saja. Selebihnya diubah menjadi energi panas. Itulah mengapa sebaiknya bohlam diganti dengan lampu hemat energi. Kalau gak percaya, coba aja sentuh bohlam yang sedang dan sudah menyala cukup lama. Kusarankan memakai kain, untuk menghindari tangan "mlonyot".

Walau lampu hemat energi tidak terlalu panas, namun tetap saja akan menghasilkan energi panas. Di rumahku, menggunakan lampu seperti pada gambar (maaf kurang jelas gambarnya), sebanyak 6 buah, masing-masing 5 Watt. Itu saja panasnya cukup kerasa kok. Ya, gak sepanas bohlam sih. Kalau lampu seperti ini, aku masih berani memakai tangan telanjang.

shinyoku-nyala shinyoku-spesifikasi

Nah, sekarang coba bandingkan dengan lampu-lampu yang digunakan untuk menerangi jalan raya, baliho, taman kota, mall, hotel, dan sebagainya. Tentu saja, besarnya daya yang dibutuhkan akan lebih dari 5 Watt. Dan tentu saja panasnya akan meningkat berkali lipat (belum dibuktikan, hehe). Kalau di satu kota terdapat 1000 lampu untuk menerangi seisi kota, bayangkan besarnya panas yang akan disumbangkan.

Nah lho, masih mau berpartisipasi dalam mempercepat global warming? Atau tergerak untuk ikut merawat bumi kita, yang cuman satu-satunya ini? Mari gunakan lampu seperlunya, matikan alat-alat listrik yang tidak digunakan, hindari kebut-kebutan di jalan, rawat tumbuhan, dan ingat, walau kita hanya orang kecil, namun percayalah, kita mampu membuat satu perubahan yang besar untuk bumi ini, tentu saja bila kita mau.

Lebih jauh mengenai Earth Hour, bisa dilihat di http://earthhour.org.

Komentar untuk artikel ini

Belum ada komentar untuk artikel ini.
Kirim Komentar
Nama :
Website/E-mail :
Komentar :
Sisa Karakter:
 

Recent Comments

tito: bro adnan kacamata ne apapun diliat jd terlihat ma...
yudis: harddisk drive saya kebakar atau bisa dibilang han...
Angky: ,gimana cara membuka file berformat .exe di nokia ...
aryu hanifah: mas mau tanya,, cara merubah subnet mask dari 255....
eko: aku mau nanya, boleh minta cara bikin menu bilanga...
krisna: mas.mo tanya komputer saya setiap saya shut down k...
arwan: bos...minta bantuannya dong... ceritanya ane mau k...
ghofar: met pagi pak rudi.. pak maw tanya ne... klo maw ny...
Zyus Andre: Mas mau tanya ... apa keuntungan makai DNS Cisco d...
Enggar: Bgmn cara mngaktfkan bluetooth yg terkunci / tdk b...


ping ip